EKSPEDISI
BAJU BIRU
PUNCAK
RANTE MARIO PEGUNUNGAN LATIMOJONG
SEKILAS TENTANG PEGUNUNGAN
LATIMOJONG
Panorama alam yang indah dan disebut sebagai atap pulau
Sulawesi menjadikan Gunung Latimojong banyak dilirik para pendaki di Indonesia.
Latimojong adalah gunung tertinggi
di Sulawesi Selatan, yang memiliki tujuh puncak, dengan puncak tertinggi Rante
Mario dan ketinggian 3.680 meter di atas permukaan laut. Membentang dari
selatan ke utara, Latimojong sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten
Enrekang, sebelah utara dengan Kabupaten Tana Toraja, sebelah selatan dengan
Kabupaten Sidrap, dan sebelah timur dengan Luwu sampai pinggir pantai Teluk
Bone. Adapun puncak-puncak Pegunungan Latimojong yang membujur dari utara ke
selatan yakni:
- Buntu Sinaji (2437)
- Buntu Lapande (2487)
- Buntu Sikolong (2754)
- Buntu Rantekambola (3083)
- Buntu Rantemario (3478)
- Buntu Nenemori (3397)
- Buntu Latimojong (3305)
- Buntu PasaBombo (2965)
- Buntu Pallu (3086)
10. Buntu Lariu
(2700)
Di pagi hari itu kami memulai perjalan dari kesekretariat
Cagar Alam Indonesia Cinta Alam (CAICA) pada Kamis, Sabtu 9 februari 2014. Pada
pukul 14.00 WITA Kami telah meninggalkan Kota Makassar degan menggunakan sepeda
motor.
Setelah Melalui Beberapa jam
perjalan Makassar, Enrekang. Kami pun tiba pada pukul 04.30 WITA di Kecamatan
Baraka, Enrekang. Kami berempat duduk terdiam di sebuah pos ronda letaknya di
gerbang pasar Baraka. Sesuai dengan jadwal yang kita tentukan, kita pun
menginformasikan saudara kami (Habib) yang tinggal di desa Kalimbua, kecamatan
Baraka. bahwa kami telah tiba di pasar yang letaknya tidak jauh dari dari
kantor kecamatan Baraka, Enrekang.
Setelah menempuh perjalan selama 14 jam degan
mengunakan sepeda motor kami tiba kediaman saudara Habib. Yang letaknya di Desa Kalimbuah. Di sana saudara Cakra dan Hamka telah menunggu
yang terlebih dahulu berangkat mengunakan mobil
Sesampai di kediaman Saudara kami,
kami pun di sambut dengan baik oleh pemuda – pemuda kalimbuah yang sedang bermain
kartu. Setelah kami melakukan
perbincangan dengan pihak keluarga dan masyarakat setempat. Kami pun di izinkan
nginap semalam di desa kalimbuah. kami sangat berterima kasih kepada pihak
keluarga dan masya rakat kalimbua yang
baik dan membantu kami dari hal Materi dan Non materi.
Semalam pun Berlalu, pada pagi hari
kami melakukan sarapan bersama keluarga Habib. Setelah itu kamipun bergegas
untuk melakukan perjalan pendakian.
Pendakian ke puncak Latimojong itu kami mulai
pada Minggu 10 Februari 2014, pada pukul 10.00 WITA. Kami pun siap melaukan perjalan mengunakan
sepeda motor, terlihat pemandangan rumah panggung berjejer. Hasil pertanian,
seperti kopi, dijemur di halaman. Rumah-rumah itu dibatasi oleh kebun salak.
Kabupaten Enrekang memang terkenal sebagai salah satu daerah penghasil salak di
Sulawesi Selatan.
Dari kejauhan terlihat bukit-bukit
batu terjal, yang berada di antara bukit-bukit hijau. Jalan semakin menanjak.
Setelah sekitar dua jam perjalanan, kamipun meninggalkan jalan beraspal dan
mulailah berjalan di jalan berbatu, kemudian jalan tanah. Adrenalin kami mulai
terpacu saat melihat jalan licin dan becek, sedangkan di sisi kanan jurang menganga
dalam dan sisi kiri tebing tinggi.
Beberapa desa pun kami lewati dengan
lelahnya. Enrekang Baraka, Pasui, Gura, Buntu Dea. Dan Kami pun tiba di desa
Rantelemo pukul 01.50 WITA. Kamipun mengambil inisiatif untuk melakukan
istirahat sejenak guna mengembalikan ferforma motor yang lelah melibas tanjakan
ditemani dengan sebatang Surya kami bersenda gurau 15 menit berlalu kami mulai
memacu kendaran melanjukan perjalanan dusun terakhir, dusun karangan, desa
Latimojong.
Pada pukul 13.30 WITA, kami pun tiba
di dusun karangan, desa latimojong.
Walau dusun ini terpencil, penduduk dusun itu dapat
menikmati penerangan listrik. Namun, bukan dari PLN. Secara swadaya masyarakat
memanfaatkan aliran sungai dan memasang kincir air yang menghasilkan daya,
kemudian dialirkan ke rumah-rumah warga. “Jadi di sini penduduk tidak perlu
membayar listrik karena ini diusahakan oleh warga sendiri. Lucunya, kadang
nyala lampu yang sangat terang tiba-tiba redup, bergantung pada deras arus yang
memutar kincir,” ujar Tahir, Kepala Dusun Karangan.
Setelah berbincang dan meberi
pakaian layak pakai yang kami bawa dari kesektariatan, kami memulai pendakian .
Dengan memanggul ransel masing-masing, kami berjalan melalui jalan setapak
meninggalkan Dusun Karangan menuju puncak Latimojong.
Belum
jauh dari dusun, terhampar pemandangan pohon-pohon kopi di sisi kiri dan kanan
jalan setapak, dengan buah merah mencolok. Tampak pula karung yang berisi
biji-biji kopi yang baru dipanen. Medan makin menanjak.
Meski belum berjalan terlalu jauh, napas sudah tidak beraturan.Sebelum tiba di
Pos I. Perjalanan kami harus menyeberangi dua sungai dengan meniti beberapa
batang pohon yang melintang di atas sungai. Kemudian kami melalui beberapa
lahan yang baru dibuka oleh warga untuk perkebunan kopi. Dari sana, jauh di
bawah, tampak indahnya pemandangan yang hijau, dan dari kejauhan tampak permukiman
warga setempat. selanjutnya adalah wilayah hutan lebat.
Kondisi jalan pun sudah mulai tidak
bersahabat. Bahkan terkadang kami harus meniti pinggiran jurang dengan
berpegangan pada akar-akar pohon. Rasa takut kadang tiba-tiba datang jika
melihat ke bawah jurang. Saya harus memakai kaus tangan agar tangan tidak
terluka saat berpegangan pada akar-akar pohon.
Medan berikutnya menuju Pos III. Sangat
sulit walau jarak tempuhnya pendek. Tebing dengan rata-rata kemiringan 70-85
derajat, belum lagi kondisi tanah yang licin, mengharuskan kami untuk
memanjatnya. Namun, di sinilah etape perjalanan paling seru meski sangat
berbahaya. “Awas, batu. Ada batu,” terdengar teriakan dari atas, mengingatkan
kami bahwa ada batu jatuh. Kami yang berada di bawah pun ekstrahati-hati agar
tidak terkena batu. “Meski berbahaya, saya sangat suka karena menantang,” kata Aldy
alias Kondo dari Caica”.
Perjalanan menuju Pos IV setelah beristirahat
sejenak jalan menuju Pos IV lebih bersahabat meski mendaki. Akar-akar pohon
sebagai tumpuan dan pegangan tersusun lebih rapi. Begitu pula dengan batang
pohon yang menjadi tumpuan alternatif. Kondisi hutan pun makin lebat dan
lembap. Kabut sempat turun beberapa saat.
Jam di tanganku menunjukkan pukul 13.09
WITA ketika kami tiba di Pos IV yang ditumbuhi pohon-pohon besar. Suasana makin
mencekam saat kabut turun yang makin membatasi jarak pandang. Terlihta sesajian
dibawah pohon entah siapa yang membawa dipikiran saya ,tapi berhubung kami haus
dan lelah tak salah rasanya kalo kami mencicipinya sedikit. Apalagi ketika
hujan mengikui langkah kami semakin dalam, selain kabut dan hutan lebat, jarak pandang.
Saya sempat drop ketika rasa lelah, lapar, dan dingin menusuk. Dengan bantuan
sekaleng susu dan istirahat sejenak, akhirnya saya dapat melanjutkan pendakian
meski dengan ritme lambat dan lebih sering berhenti.
Akhirnya
sampailah kami di Pos V sekitar pukul 14.50 Wita, tempat kami beristirahat dan
makan ditengah sergapan rasa dingin,sambil menunggu hujan radah. Di sekitar
tempat itu ada sebuah sungai, yang untuk mencapainya harus melewati medan yang
terjal dan licin.
Kondisi hutan di ketinggian sekitar
3.000 mdpl terasa lembap. Batang-batang pohon di sekeliling kami ditutupi lumut.
Sementara itu, di Pos VII terdapat bukit-bukit batu dan pohon-pohon kerdil,
tempat kami beristirahat sebelum melanjurkan perjalanan mencapai Puncak Rante
Mario. . Akhirnya sampailah kami dilokasi camp dekat pemancar, sekitar pukul
18.30 Wita, tempat kami menginap malam itu hujan tak urung redah mengharuskan
kami memasak dalam tenda dan berdoa esok pagi akan cerah.
Perjuangan mencapai puncak Rante
Mario akhirnya tercapai setelah mendaki tebing, melalui bukit-bukit batu dan
hutan berpohon kerdil. Kami pun langsung menuju titik tranggulasi di ketinggian
3.680 Mdpl. Segala kelelahan terbayar seketika saat melihat pemandangan yang
indah, kala matahari beranjak ke arah barat, dengan berkas warna kuning
keemasan menerpa awan putih.
Pada Selasa, 11 Februari 2014. Pukul
11.00 Wita. Kami tiba di puncak tertinggi (Rante Mario). pegunungan
Latimojong. Kab. Enrekang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar